Skip to main content

Opini islami meneladani sifat kepemimpinan nabi Ibrahim as





Meneladani Kepemimpinan Nabi Ibrahim, As
(Renungan Hari Raya Kurban )


Oleh : Ariyanto, S.Psi.I
Guru MAN 3 Inhil
Bulan Dzulhijjah merupakan bulan istimewa dan bulan bersejarah bagi umat Islam. Karenanya, umat Islam melaksanakan ibadah haji, kurban, dan mendirikan shalat Idul Adha seraya mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil. Uniknya, rangkaian ibadah tersebut erat kaitannya dengan kisah perjalanan hidup seorang Nabi yakni Nabi Ibrahim AS. Jika diperhatikan, keluarga Nabi Ibrahim merupakan salah satu profil Kepemimpinan keluarga ideal yang diabadikan Allah dalam Al-Quran.
Sebagai seorang Nabi dan Rasul, Ibrahim merupakan sosok manusia agung yang  diutus oleh Allah Swt untuk memberikan tauladan kepada umat manusia sebagai sosok pemimpin yang demokratis di tengah keluarganya dan keagungan kepribadianya (treck record dan integritas) yang harus kita ambil pelajaran darinya.  Banyak makna yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim AS. Di antaranya,  keteladanan Nabi Ibrahim sebagai seorang pemimpin ditengah keluarganya. 
Sebagai seorang suami, Ibrahim memiliki sifat sabar yang tertanam dalam dirinya, kesabaran beliau terlihat ketika istrinya belum bisa memberikan anak keturunan darinya dari sekian lama pernikahan mereka, hingga datang masa tuanya Allah mewujudkan impiannya siti hajar melahirkan putranya Ismail, As. Kesabar itu pula dimiliki oleh istrinya ketika ingin melahirkan Nabi Ismail As, saat itu Siti Hajar berada dibukit gersang dan tandus sehingga ia bersama putranya Nabi Ismail merasakan kehausan yang luar biasa. Akan tetapi sebagai seorang ibu Siti Hajar berusaha berlari kebukit shafa dan marwah untuk menemukan air. Alhasil, ia ilir mudik antara shafa dan marwah sebanyak tujuh kali barulah ia menemukan mata air zam-zam itu tepat pada bekas jejak kaki Ismail As, peristiwa  inilah yang disebut dengan sa’i. Nabi Ibrahim juga bersikap adil kepada kedua istrinya, Sarah dan Hajar, keduanya taat kepada Nabi Ibrahim. Ketaatan istri tersebut tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menampilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga, dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama. Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya berubah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang suami tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan mempermudah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.
Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim AS tampil sebagai sosok yang idealis penuh kasih sayang, demokratis, dan menjadi teladan. Perhatikanlah dialog Nabi Ibrahim ketika menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Qs. ash-Shaffat/37: 102).
Dalam dialog yang dikemukakan Alquran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi dan anaknya dan bersifat demokratis. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang digunakannya ketika menyeru buah hatinya: ya bunayya (hai anakku). Penggunakan kata ya bunayya merupakan panggilan penuh kasih sayang kepada anaknya.
Kemudian, Ibrahim meminta pendapat kepada anaknya ketika diperintah untuk menyembelih sang anak tersebut. Tampak jiwa demokratis seorang ayah yang sebelumnya telah berupaya menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik kepada Ismail. Jangankan mengajak untuk kebaikan yang menguntungkan secara lahiriah, ketika diajak untuk mengorbankan nyawa sekali pun, sang anak rela tanpa protes. Kita tentu bertanya, upaya apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga anaknya setaat itu? Semua itu tidak terlepas dari doa, usaha, dan keteladanan yang dilakukan oleh Nabi Ibarahim. Alquran mengabadikan doa Nabi Ibrahim, rabbi habli minashshalihin, Wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shaleh (Qs. ash-Shaffat/37: 100).
Hal ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa berdoa untuk memperoleh anak yang shaleh. Doa itu juga diiringi dengan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Siti Hajar, meskipun berkulit hitam, berstatus budak, tetapi imannya teguh, akhlaknya mulia, taat beragama dan patuh pada suaminya. Usaha seperti ini juga diajarkan dalam Alquran. Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, meskipun menarik hati (Qs. al-Baqarah/2: 221). 
Karena itu, jika menginginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupakan guru pertama bagi seorang anak?
Selain itu sikap rela berkorban haruslah kembali kita aktualisasikan sebagaimana yang diwariskan Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan apa saja demi ketaatannya kepada Allah Swt, bahkan Ismail as harus dikorban untuk memenuhi perintah Allah Swt. Pada hari dan saat ini Allah Swt, tidaklah meminta kita untuk mengorbakan anak agar dijadikan sembelihan, namun Allah swt, hanya meminta sebagian rezki yang kita peroleh dengan penyembelih seekor domba atau sapi. 
Nabi Ibrahim juga menjadi teladan bagi anaknya. Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu berdiam di sekitarnya (Qs. Ibrahim/14: 37). Nabi Ibrahim memberi contoh secara langsung bagaimana cara beribadah kepada Allah, bukan sekedar nasihat. Upaya ini sejatinya kita teladani dengan konsisten menjadi contoh yang baik kepada anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja. Dengan begitu ketaatan dan kemuliaan pribadi sang anak akan memberi energi positif kepada orang tuanya. Inilah kebanggan orang tua yang tak ternilai harganya. Kepatuhan, ketaatan, pengorbanan, dan keteladanan merupakan kata kunci dari keberhasilan keluarga Nabi Ibrahim as. Karena itu, Allah menganugerahkan kebahagiaan pada keluarganya. Bahkan melalui istri pertama, Siti Sarah, juga melahirkan Ishaq yang kelak juga menjadi nabi. Semua itu pun disyukuri oleh Nabi Ibrahim a.s. “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq”. Namun rasa syukur itu tetap diringi dengan kepasrahan sepenuh hati kepada Allah seraya berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku (Ibrahim/14: 39-40).
Sejatinya, pelaksanaan Hari Raya Idul Adha/Hari Raya Kurban di tahun ini, menjadi momentum bagi kita untuk mengevaluasi keluarga kita masing-masing. Kisah teladan Nabi Ibrahim hendaknya menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, dalam ridha Allah SWT. Amin...

Comments

Popular posts from this blog

Puisi " Ratapan Ku"

Ratapan ku Kulangkahkan kaki menuju pondok kecil Dengan rasa bangga dan haru Ku bawakan secarik kertas Berisikan nilai terbaikku Kan ku hadiahkan untuk ibu Tetapi langkahku terhenti Kulihat bendera kuning Menyingsing disudut genting Dengan ramai orang berdatangan Dalam hening tak bergeming Kubertanya siapa yang tiada Baru selangkah kakiku berjalan Ku disambut dengan peluk Dan isak tangis adik-adikku Pada mereka kubertanya Dan jawabnya ibu tlah pergi Bagai petir disiang bolong Ku berlari memeluk jenazah ibuku Yang terbujur kaku dalam Balutan kain putih Kupandang wajahmu ibu Kubayangkan senyummu Ku ingat belaian kasihmu Terdiam ku terpaku Tak sanggup kuingat Berapa besar dosaku padamu Ya illahi yaa rabbi... Ampuni aku ibu Semalam kau titipkan Pesan itu sayu Kenapa sekarang berlaku Tak sempat ku memohon ampun Tak sempat ku ucapkan rasa terimakasihku Tak sempat ku ucapkan rasa sayangku Disudut sana ...

Sejarah gmail dan kelebihannya

                                                            gmail merupakan sebuah surat ektronik yang di kembangkan oleh prusahaan berbasis digital yang di kembangkan di jerman pada tangal 1 april 2014 di jerman setelah meredar luas pengujiannya Gmail meluncurkan Versi beta dengan menggunakan sistem pemrograman AJAX pertama. Yang mana pada masa awal peluncurannya ini, Gmail hanya bisa dinikmati oleh pengguna yang diundang saja, dan belum tersedia untuk umum. Memberikan keleluasaan penyimpanan hingga 1GB untuk setiap penggunanya dan dengan tampilan conversation. pada tahun 2005 Pada tanggal 4 Juli 2005 Google mengumumkan bahwa Gmail Deutschland akan rebranded Google Mail. From that point forward, visitors originating from a German IP address were forwarded to  googlemail.com  where they could obtain an e...